Renungan bersama menjelang 105 tahun kiprah dokter di Indonesia

Posted: Mei 20, 2013 in corat coret
Tag:, , , , , , , , , ,

Dokter, profesi yang amat mulia (ini harus diakui lho).

Kita ingat, profesi ini pula yang menjadi motor pergerakan bangsa Indonesia saat masa perjuangan yang diwakili oleh dr.Soetomo dan TS yang lain..

Profesi ini juga yang menjadi pilar dan subjek utama dalam pencapaian beberapa poin MDG’s.

Tapi ironis, saat ini eksistensi dokter, sebagai satu satunya profesi yang memiliki Undang undang dalam menjalankan prakteknya, semakin tergerus. Saya sampai lupa kapan hal ini mulai terjadi. Namun saat ini, dokter seakan akan menjadi pesakitan di negri ini.

Tanpa disadari, negara ini (yang termasuk didalmnya adalah rakyatnya) telah memberi perlakuan tidak adil bagi profesi ini. Dan lebih gilanya lagi, dokter Indonesia terkesan adem ayem saja diperlakukan seperti itu, paling tidak sampai bulan kemarin.

Coba kita bercermin sedikit. Disaat buruh setiap tahun selalu bersuara untuk kesejahteraan mereka, dokter masih saja sibuk melayani masyarakat sampai di pedalaman. Disaat para guru demo berjuang kenaikan gaji, para dokter masih saja disibukkan dengan pelayanan di tempat tugas mereka, Disaat profesi lain sudah berhasil meraih perjuangan mereka, para dokter masih saja berada dalam kondisi yang sama. Disaat upah buruh mencapai angka lebih dari 2 juta perbulan, pendapatan dokter PTT di pedalaman masih 1,5 juta.

Coba kita bercermin lagi. Disaat para koruptor dengan gampang menghadapi pengadilan didampingi tim pengacara hebat (yang bisa dipastikan akan membela habis habisan koruptor itu), para dokter harus berjuang menghadapi tuntutan dari preman yang bertopeng LSM yang mengatasnamakan rakyat.

yak, itu sekelumit kisah getir para dokter di negri ini.

Namun sekali lagi lagi, diantara semua keterbatasan dan perlakuan yang serasa tidak adil itu, kami bangga dengan sejawat kami yang bertaruh nyawa menolong persalinan ibu hamil di pedalaman Jayawijaya, dan lembah Keerom. Kami bangga dengan sejawat kami yang berjuang memberantas malaria di timur Indonesia, meski nyawa mereka harus berhadapan langsung dengan malaria ganas. Dan disitulah kebanggan kami menyandang profesi dokter.

Kami dididik sangat lama hingga 6 tahun menjadi dokter umum dan harus ditambah 5-7 tahun lagi untuk spesialis, karena kami sadar yang kami tolong nanti adalah MANUSIA yang memiliki hak untuk hidup. Dan itu adalah sumpah kami, yang kami bawa sampai mati. Jadi kalaupun ada yang melakukan sedikit kekhilafan atau kelalaian, saya amat sangat yakin, itu bukanlah sesuatu yang disengaja. Namun apakah seperti itu ?

TIDAK kawan!!!

Jika seorang dokter sedikit saja membuat kesalahan maka hampir bisa dipastikan serangan tuntutan dan umpatan beserta cacian datang dari segala arah dengan berdalih pelayanan yang tidak profesional dan selalu berujung pada satu kata, MALPRAKTEK. Seolah olah negara ini lupa kalau dokter itu juga seorang manusia yang pada suatu saat pasti bisa khilaf dan alpa.

Ah sudahlah…

Saya tidak ingin berlama lama menulis disini, ntar dikira lebay.

Cuma ada beberapa poin yang mau saya sampaikan dan saya harap jadi perhatian semua pihak.

PEMERINTAH : tolong perhatikan dan dengarkan suara kami. Anda harus inget punya warga negara yang berprofesi sebagai dokter. Dan untuk menuju profesi itu sangatlah tidak mudah. Jadi tolong benahi sistem pendidikan Kedokteran di Indonesia, berikan insentif yang layak bagi sejawat yang tulus mengabdi di wilayah pelosok indonesia. Jangan hanya bisa membuat program besar namun tidak dipersiapkan secara matang, akibatnya apa? Yang menjadi kambing hitam bukan anda, tapi kami yang bertugas di lapangan!! Memberikan program pelayanan kesehatan gratis, namun imbal jasa yang diberikan amat sangat tidak layak. Sekali lagi, berlakulah sebagai pemerintah yang bertanggungjawab.

WAKIL RAKYAT YANG TERHORMAT : dimana kalian jika kami yang menuntut hak? Jangan dikira kami para dokter tidak memiliki hak yang harus kalian perjuangkan. Jadi saya harap, buka mata dan telinga anda. Dengarkan aspirasi kami.

MEDIA/PERS : sampai sekarang saya sangat jarang ada headline yang memuat tentang perjuangan berat seorang dokter di daerah amat terpencil. Bahkan ketika ada sejawat kami yang meninggal akibat ambulance yang di tumpangi setelah merujuk pasien jatuh kejurang di papua hanya berada di sudut kecil harian nasional, mungkin tidak ada yang membacanya. Atau ketika ada rombongan dokter PTT yang bertugas di timur Indonesia yang tewas dalam tugas karena kapal yang mengantar mereka tenggelam, itu juga tidak terlihat di harian lokal dan nasional. Beritakan secara seimbang, sama saat kalian memberitakan dugaan kasus malpraktek yang dilakukan salah satu dari kami.

SEJAWAT : tetap semangat kawan. Karena bagaimanapun kita tetap dibutuhkan masyarakat. Adalah memang tugas kita untuk memberikan pelayanan kesehatan dan menjadi perantara Allah untuk menyembuhkan orang lain.

Selamat hari bakti dokter Indonesia.

Sejehtera dokter Indonesia, sejahtera Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s