Perbedaan Dalam Penentuan Awal Ramadhan

Posted: Juli 19, 2012 in corat coret, Uncategorized
Tag:, , , , , , , , ,

Assalaamu’alaykum wr wb

Alasan saya menulis postingan ini berawal dari adanya tulisan dari Prof Sofjan Siregar di situs yahoo. Disana sang profesor menyatakan kalau perbedaan dalam menentukan awal puasa adalah suatu laknat, bukannya suatu rahmat.

Dan beliau sempat mengeluarkan komentar yang saya pikir tidak layak diucapkan oleh seorang guru besar ilmu Islam (meski saya juga kurang tau spesialisasi beliau di bidang apa, karena di situs itu profesor mengomentari semua hal), karena terkesan mendiskreditkan sebagian pihak. Disini malah membuat masyarakat bukannya tercerahkan, maah jadi bertambah bingung, dan yang lebih fatal bisa menumbuhkan sikap “yang paling benar” diantara ummat.

Memang di Indonesia, kita sering mendengar dan mengalami adanya perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri. Namun perbedaan itu sebaiknya kita sikapi secara arif dan bijaksana. Ada sebagian ummat yang menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri dengan metode Rukyatul Hilal, namun ada juga yang menggunakan metode Hisab (wujudul hilal).

Menurut perhitungan Hisab, bulan baru bisa ditentukan jauh jauh hari dengan menghitung kapan terjadinya konjungsi/ijtimak (bulan dan matahari berada sejajar), dan saatnya hilal itu muncul. Hal ini terlepas dari berapapun ketinggian hilal, jika hilal sudah muncul maka ditetapkan sudah memasuki bulan baru, dengan syarat (1) Konjungsi (ijtimak) telah terjadi sebelum Matahari tenggelam, (2) Bulan tenggelam setelah Matahari, maka keesokan harinya dinyatakan sebagai awal bulan Hijriyah.

Sedangkan dari sisi Rukyatul Hilal, berpedoman bahwa bulan baru sudah datang jika hilal dapat dilihat lewat penglihatan langsung. oleh karena itu ketinggian hilal sangat berpengaruh pada metode ini. Jika ketinggian hilal sudah memungkinkan untuk dilihat maka ditetapkan sudah memasuki bilan baru. Metode ini memiliki persyaratan (1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang daripada 2° dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3°. Atau (2)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak/konjungsi berlaku. Persyaratan ini merupakan kesepakatan pada Taqwim Standard Empat Negara Asean, yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) dan merumuskan kriteria yang disebut “imkanur rukyah”

Nah berdasar pedoman inilah masing masing metode memiliki kesimpulan yang sering berbeda, namun sebaiknya kita jangan membesarkan perbedaan itu,apalagi sampai menyalahkan/menjatuhkan pihak lain, karena manapun yang kita ikuti insya Allah shaum kita akan diterima, insya Allah.

Selanjutnya terserah anda,mau berpuasa sesuai hisab atau sesuai rukyah? Insya Allah kita akan memasuki Ramadhan yang sama, yang sama sama merupakan bulan penuh maghfiroh dan ladang amal kita.

Marhaban yaa Ramadhan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s