Ketika kebebasan hanya sebuah lip service

Posted: Juni 6, 2009 in Uncategorized

Miris rasanya jika kita mengikuti kisah seorang Prita Mulyasari. Seorang ibu yang secara zhalim dituduh sebagai pencemar nama baik sebuah RS “besar”. Mengapa saya membuat besar dengan tanda kutip? Sebab sepertinya para stakeholder RS tsb hanya punya kebesaran nama tanpa punya kebesaran jiwa.

Rasanya teramat sangat wajar jika ibu Prita menuangkan pengalamannya di RS Omni tersebut. Mungkin kalau kita berada di posisi bu Prita, kita akan melakukan hal yang sama (iya kan?). Saya yakin, sejak ketikan huruf pertama dalam email tersebut, bu Prita tidak punya niat sedikit pun untukmendemarkan nama besar Omni dan nama baik dokter dokternya. Saya yakin tujuan utama tulisan bu Prita adalah agar teman teman baiknya berhati hati dan tidak mengalami nasib serupa dirinya.

Wajar kan?

Nah kalau pada akhirnya gara gara email itu kemudian bu Prita ditangkap dan di jebloskan ke dalam penjara (walaupun sekarang jadi tahanan kota, tetap saja namanya adalah penjara), hal itu sangat lucu.

Knapa? Kalau bu Prita saja ditangkap denhgan tuduhan mencemarkan nama baik, knapa pihak RS Omni tidak diperlakukan seperti itu. Bahkan tuduhannya bisa lebih berat, mengancam keselamatan nyawa orang lain, dan melanggar hak hak konsumen!!

Bisa kita bayangkan, sorang pasien mendapatkan senbuah terapi yang tidak ada indikasinya. Dan baru kali ini saya mengetahui kalau trombosit 181.000 merupakan salah satu kriteria penegakan doagnosis DHF (kriteria dari mana??)

Bahkan pemberian obat tanpa indikasi tersebut bisa dikategorikan sebagai tindakan malpraktek! Apakah para dokter disana tidak menyadarinya?

Di satu sisi penangkapan bu Prita ini menunjukkan masih rendahnya perlindungan konsumen di Indonesia, dus merupakan titik mundur dari kebebasan di negara kita.

Ujung ujungnya, masyarakat kita tidak akan berani bicara terbuka lagi, apa bedanya dengan Orde Baru?? Ngomong dikit di tangkep! Payah.

Sudah saat pemerintanh merevisi kembali UU ITE, jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Dimana seorang yang menuntut haknya malah dinyatakan bersalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s