Pelajaran dari keluarga Elang

Posted: Mei 30, 2009 in telaga hati

Induk elang itu berjalan perlahan di atas ranting pohon jati, tidak jauh dari sarang yang dibuat nya beberapa bulan yang lalu. Matanya nanar, tajam memperhatikan sekeliling hutan hujan tropis di pedalaman Kalimantan itu. Udara terasa cukup bersahabat. Bulu bulu halusnya terlihat bergerak gerak tertiup angin di pucuk jati itu. Sekitar setengah menit kemudian dia kembali kesarangnya. Perlahan namun penuh kepastian digiringnya tiga ekor anak nya yang masih berusia dini itu mendekati ujung dahan. Para anak elang pun dengan penuh kepercayaan terhadap sang induk mengikuti keujung dahan itu. Sesaat mereka berkumpul di ujung dahan yang sempit itu. Sekali lagi induk elang memperhatikan sekelilingnya.. Kemudian dia menatap anak anak nya yang masih kecil itu satu persatu, seakan ingin memberikan sebuah pesan. Tidak berapa lama sang induk elang melemparkan salah satu anaknya dari dahan itu, diikuti anak kedua dan anak ketiganya. Sesaat ketiga anak elang itu kaget bukan main. Mereka tidak menyangka induk mereka yang selama ii terlihat begitu baik, begitu sayang dan perhatiannya kepada mereka, sekarang malah tega membuang mereka dari dahan yang sangat tinggi tersebut.
Padahal mereka sama sekali belum bisa terbang!!! Itu artinya ada masalah besar dihadapan mereka. Masalah yang sangat besar. Dan masalah itu adalah berhadapan dengan kematian!!!
Spontan, dengan naluri mereka sebagai seekor elang, plus akibat dihadapkan pada sebuah masalah terbesar yang mereka hadapi sejak mereka lahir, mereka mulai mengepakkan sayap kecil mereka. Perlahan namun pasti, anak anak elang tersebut berhasil mengambang diudara.
?Yess!!!? Begitu pekik mereka dalam hati. Dengan kepercayaan diri yang mulai tumbuh mereka semakin kuat mengepakkan sayap muda mereka?.
Dan akhirnya mereka berhasil melewati ujian terbesar mereka dalam fase hidup seekor elang.
Ya., mereka telah berhasil belajar terbang! Dan kini mereka merasa telah menjadi elang secara sepenuhnya. Tampak diatas, sang induk tersenyum kearah mereka dan menukik tajam hinggap ke dahan di dekat mereka. Lalu dengan isyarat matanya dia mengajak elang muda nya itu untuk terbang kembali kesarang mereka.

Sejenak kalau kita perhatikan, peristiwa itu adalah sebuah hal yang wajar. Wajar kalau seekor burung muda belajar terbang, karena mereka adalah burung.
Simpel memang.
Tapi kita jarang sekali memperhatikan proses yang mereka lewati. Sebelum berhasil terbang dan menemukan kesejatian diri mereka sebagai elang, mereka terlebih dulu duhadapkan pada sebuah situasi yang teramat sulit. Masalah yang amat besar. Dan saat mereka berhasil melewati ujian tersebut, mereka mencapai derajat yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Pun sama dengan kita, manusia.
Kalau kita renungkan secara mendalam, hidup kita sebenarnya cuma terdiri dari dua proses. Ujian dan kenikmatan, dan hal itu adalah berpasangan. Tidak ada seorang pun dimuka bumi ini yang diberikan ujian terus menerus dalam hidup mereka. Dan adalah mustahil juga seorang manusia selalu dihadapkan pada kenikmatan terus menerus sepanjang hidupnya,. Itu adalah sebuah kepasdtian, karena itu adalah sebuah sunnatullah.
Setelah selesai sebuah ujian maka akan ada balasan kenikmatan.

Namun adakalanya manusia salah memandang sebuah ujian. Anggapan mereka ujian adalah sebuah keadaan yang sangat menyulitkan. Kesempitan ekonomi, kehilangan orang yang disayangi, kegagalan dalam karir, dan serangkaian kejadian negative lainnya. Mereka lupa menyadari kalau kesenangan, keluasan rezeki, kehidupan yang selalu terasa mudah, sebenarnya adalah ujian juga.
Allah memberikan keadaan keadaan tersebut untuk menguji sejauh mana kadar keimanan kita, dan seandainya kita lulus ujian tersebut, tentu saja ada peningkatan derajat kita. Baik dari segi keimanan maupun dari segi pendewasaan jiwa kita.

Biasanya manusia baru merasa diuji jika mendapatkan musibah. Mereka langsung memperbanyak ibadah mereka, berdoa tiada pernah putuh, bermunajat tiada henti, sampai mendapatkan kelapangan.
Namun sedikit sekali manusia yang tetap kencang beribadah disaat mereka diberi kenikmatan. Terkadang mereka lupa, justru ujian terbesar adalah saat kita diberi kenikmatan. Allah ingin tahu apakah kalau kita diberi kenikmatan kita menjadi hambanya yang bersyukur atau tidak. Jika diberi keluasan rezeki apakah kita masih ingat dengan kehidupan anak yatim, kaum duafa dan fakir miskin?

Dan esensi dari semua ujian itu adalah semata matya untuk meningkatkan derajat kita.
Disaat kita berhasil melewati banyak masalah dalam hidup, otomatis kita akan berfikir lebih bijaksana dalam menapaki hidup selanjutnya. Saat kita berhasil melewati satu ujian hidup kita akan lebih arif memandang setiap permasalahan selanjutnya.
Dan kita tidak akan mudah berputus asa. Karena Allah sendiri sudah berjanji, ?Laa yukallifullahu nafsan illa wus?aha? .Allah tidak akan menguji seorang hamba melewati kemampuannya.
Seperti induk elang tadi, dia tidak akan melemparkan anak anaknya jika dia menilai anaknya belum mampu untuk terbang. Begitupun Allah menerunkan ujian kepada kita. Pasti sesuai dengan kemampuan kita. Dan itu adalah janji Allah, kita harus meyakininya. Sekarang tergantung kita menyikapi setiap permasalahan yang menghadang didepan kita.
Kita bukan bertanya, ?mampukah kita??
Namun sebaiknya kita bertanya ?siapkah kita??
Karena siap atau tidak siap, ujian itu pasti akan dating jua.
Jadi bersiaplah saudaraku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s