Indonesia-Amerika (sebuah catatan pribadi)

Posted: Maret 14, 2009 in corat coret
Tag:, ,

<!– @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

Beberapa hari yang lalu negara kita baru saja kedatangan tamu yang sangat penting.

Yup, kunjungan mentri luar negri Amerika, Hillary Rodham Clinton. Mungkin diantara kita masyarakat awam banyak tanggapan muncul, yang tentu saja bermacam macam bentuknya.

Ada yang mengatakan kunjungan itu sangat bernilai positif bagi hubungan negara kita dengan negara adidaya itu, ada juga yang menyebutkan kunjungan itu hanya ajang TP-TP (tebar pesona-tarik perhatian) dari negara kita yang notabene adalah negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia.

Apapun itu, kunjungan menlu Amerika Serikat tersebut memang telah menyedot perhatian publik negri ini. Apalagi ini adalah kunjugan luar negri pertamanya, dan salah satu negara yang pertama kali di kunjungi adalah negara kita!!!

Absolutely hal ini membuat para elite kita merasa bangga. Tapi yang perlu diingat, jangan sampai kunjungan singkat mantan first lady tersebut justru membuat kita gede rumangsa atau ge-er.

Sudah lama kita maklumi, Amerika tidak pernah dengan setulus hati memberikan ‘perhatian’ kepada sebuah negara. Mesti ada udang dibalik batu. Harus ada imbalan dari semua, there’s no lunch for free. Dan ini sudah dialami negara kita pula. Sudah bertahun tahun negara kita dijajah Amerika. Mulai dari kekayaan alam, ekonomi, politik sampai dengan peraturan internal negara kita harus sesuai dengan kemauan negri paman Sam itu, salah satu misalnya saja peraturan tentang kurikulum pesantren yang kata mereka harus diubah karena mendoktrin para santrinya untuk menjadi teroris,dan masih banyak hal lainnya.

Boleh saja mengharap adanya tatanan dunia baru dibawah kepemimpinan Obama, dan menlu Hillary Clinton ini. Namun sebaiknya jangan berharap muluk muluk. Amerika tetaplah Amerika. Sebuah negara yang ingin menjadi penguasa dunia,yang ingin menjadi polisi dunia, yang ingin menjadi negara yang tak terkalahkan, dan ini adalah sebuah bukti sejarah. Mulai dari George Washington sampai George Bush, Amerika tetap berusaha, kalau perlu dengan berbagai cara, agar semua negara di dunia patuh dan tunduk dibawah perintah mereka.

Dan mereka memberi contoh di Afghanistan, Irak, Iran, Palestina, Pakistan dan banyak negara lain, bagaimana kalau negara tersebut tidak mematuhi mereka, maka tunggu saja saat kehancurannya atau minimal diembargo. Itulah Amerika sejak zaman dahulu, mereka tidak mau melihat negara lain melebihi mereka, terutama jika negara tersebut mereka angap sebagai musuh.

Ngomong ngomong soal musuh, kalaulah Uni Sovyet masih hidup, tentu mereka masih menjadi musuh utama Amerika. Namun seiring dengan runtuhnya komunisme di Sovyet, sekarang musuh bagi mereka adalah dunia Islam. Dan Islamofobia sangat tampak dalam kebijakan kebijakan politik mereka, bahkan mereka bawa kedalam PBB, dengan dalih memerangi terorisme lah, mencari senjata pemusnah missal lah, dan banyak alasan lain.. Sebenarnya PBB sendiri tidak perlu ada selama Amerika masih ada, karena setiap keputusan PBB pastilah mendukung kepentingan Amerika, dan jika mereka anggap keputusan PBB itu merugikan mereka, pasti mereka akan memvetonya, gampang toh. Seakan akan PBB adalah milik Amerika.

Itulah Amerika, mereka masih saja seperti itu.

Dan bagaimana Amerika dibawah kepemimpinan Obama?

Kalau terhadap dunia Islam, sebaiknya kita jangan terlalu berharap Amerika akan berubah. Kita bisa lihat dari pidato kemenangan Obama beberapa waktu yang lalu. Tidak ada kata kata yang menyinggung tentang konflik di Palestina, tidak ada rencana yang jelas tentang cara menghentikan krisis di Timur Tengah, dan mereka tetap saja tidak mau mengakui eksistensi HAMAS sebagai pemenang pemilu di Palestina. Obama hanya menceritakan bagaimana menanggulangi masalah dalam negri Amerika, yang memang tengah bergejolak akibat ulah mereka sendiri.

Dan kalaulah kita berandai andai Obama akan merubah arah politik luar negrinya dengan merangkul dunia Islam sebagai mitra, bukan tidak mungkin dia akan mendapatkan nasib serupa dengan presiden presiden Amerika yang keluar dari patron seorang presiden Amerika yang seharusnya, seperti Lincoln yang menghapus perbudakan disana, atau JFK yang akhirnya harus mati ditembak. Apalagi, inilah kali pertama Amerika dipimpin oleh seorang presiden dengan kulit yang berwarna. Banyak invisible hand yang bekerja di Gedung Putih.

Kita semua juga sudah mahfum kalau zionis yahudi merupakan aktor intelektual yang sangat berpengaruh di Amerika. Dengan lobinya yang sangat luar biasa (dan keahlian ini sudah termaktub di dalam al Quran), mereka mengontrol semua kebijakan yang diambil Gedung Putih dan Pentagon. Dan mereka merupakan salah satu invisible hand yang paling kuat di Amerika. Maka tidak heran kalau semua kebijakan di Amerika hampir bisa dipastikan akan menguntungkan zionis.

Dan bagaimana dengan Indonesia. Dimana posisi kita dimata Amerika?

Apakah Obama juga menganggap Indonesia sebagai Negara keduanya, sebagaimana kita dengan bangga mengaku akui Obama sebagai seorang “anak menteng”?

Apakah kita masih saja dianggap cuma sebagai salah satu Negara “jajahan” mereka?

Atau apakah kita dapat memanfaat momenrum ini sebagai titik tolak kebangkitan kita.

Dengan kondisi kekayaan alam kita, dengan kondisi krisis global, dengan kondisi amerika yang juga tengah goyah, dan dengan kondisi semakin bangkitnya dunia Islam, seharusnya kita bisa memiliki posisi tawar yang lebih baik. Kita jangan hanya puas menjadi bangsa nomor dua, kita harus memiliki peran strategis dalam peta dunia, kita jangan mau menjadi “budak” negara lain.

Tapi semua itu kembali berpulang kepada pemimpin kita. Sudahkan para pemimpin kita memiliki jiwa kepemimpinan yang besar, apakah kita juga sudah mulai berpikir sebagai bangsa yang besar yang bangga dengan tanah airnya, sudahkan kita mengenyahkan doktrin “monggo, terserah bapak, saya cuma mengikuti saja..”.

Kalaulah miss Hillary mendapat penyambutan yang luar biasa di negri kita, bagaimana kalau Hassan Wirajuda mengunjungi Amerika?

Apakah akan mendapatkan penyambutan plus pengawalan yang luar biasa juga?

Sambil tersenyum kecut saya hanya bisa menerawang…

“Kapan ya kita bisa kayak gitu..?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s