Sebuah renungan

Posted: Maret 1, 2009 in telaga hati, Uncategorized
Tag:,

Semarang siang itu cukup terik.

Beranjak dari pelataran kampus yang gersang karena lebih luas lapangan parkirnya ketimbang pohon pohon rindangnya, aku memutuskan untuk mampir sejenak ke daerah Simpang lima. Ada sebuah amanah yang harus ditunaikan.

Bis berjalan perlahan. Untung saja aku mendapat bis yang agak lapang jadi bisa kebagian tempat duduk.

Memasuki daerah pasar Johar. Seperti yang sudah aku perkirakan, begitu bis berhenti untuk ngetem, langsung saja para pedagang asongan berebut naik kedalam bis. Mulai dari tukang koran, penjual permen, pedagang buku, pengecer minuman, sampai akhirnya mataku tertumbuk pada seorang gadis kecil seumuran kelas 5 SD. Dengan cekatan dia masuk kedalam bis, langsung membagikan amplop kepada seluruh penumpang, termasuk saya, lalu kemudian menyanyikan sebuah lagu dengan instrumen minus one, alias hanya memakai kecrik.

Ya, dia memang seorang pengamen jalanan..

Lama aku perhatikan gadis kecil itu. Betapa dengan usia yang masih sangat belia, dia sudah harus bertarung dengan kehidupan yang terkadang sangat kejam ini.

Tiba tiba aku tersentak.. Sudah jadi apa saya saat seumuran dia?? Apa yang sudah bisa saya lakukan saat masih seusia dengan dia??..

Tiba tiba aku merasa sangat terenyuh, terenyuh kepada diri saya sendiri. Saya (bahkan mungkin banyak dari kita) terkadang memandang orang-orang seperti gadis pengamen itu dengan sebelah mata, bahkan mungkin tidak memandang sama sekali. Tanpa kita sadari bahwa mereka adalah orang-orang pekerja keras yang berusaha mempertahankan hidupnya dengan tangannya sendiri. Sedangkan saya, dengan usia hampir seperempat abad (dengan status mahasiswa yang saya banggakan) terkadang masih meminta kepada orang tua, bahkan untuk sekedar uang makan!!.

Masya Allah, memang sudah selayaknya saya malu kepada diri saya sendiri, kepada gadis kecil itu, dan kepada Allah yang telah memberikan hidup dan kecukupan rezeki kepada saya.

Yah, kecukupan rezeki yang tanpa kita sadari disana terdapat hak – hak fakir miskin yang dititipkan kepada kita. Hak pengamen jalanan, hak si miskin yang sering kita temui di bawah jembatan, hak si fakir yang sering melihat kita dengan tatapan memelas di perempatan jalan… Ya Allah, betapa ternyata diri ini sudah sering melalaikan amanah yang Engkau titipkan kepada kami. Kami terlalu tamak terhadap rezeki yang Engkau limpahkan kepada kami, tanpa sadar keluar ucapan lirih dari bibir saya :

ASTAGHFIRULLAH….

Ya Allah, berilah kami waktu agar kami sempat menunjukkan kesyukuran kami kepadaMu. Izinkan kami untuk selalu ingat dan menyampaikan amanah Engkau melalui tangan tangan kecil yang terulur di perempatan lampu merah. Kami memang belum mampu untuk menjadi seperti Abu Bakar yang mendermakan seluruh hartanya untuk agamaMu dan hanya menyisakan Engkau dan RasulMu bagi keluarganya, maka mudahkan usaha kami ini agar bisa menjadi hambaMu yang bersyukur, walau dengan tertatih…

Tak terasa lagu yang dinyanyikan gadis kecil itu pun usai. Seraya menyelipkan uang seribuan kedalam amplop usang itu, terbetik harapan dan doa, semoga dengan sedekah yang tidak seberapa ini, Allah akan mengampuni semua kealpaan saya selama ini, amiin..

Anak itupun turun setelah mengambil kembali semua amplop nya. Bis kembali berjalan perlahan mengeluarkan asap hitam ketengah udara Semarang yang semakin panas..

M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s