Mudik

Posted: Maret 1, 2009 in telaga hati, Uncategorized
Tag:,

Assalaamu’alaikum wr wb

Ada hal menarik yang selalu terjadi setiap tahun menjelang lebaran. Dan sepertinya cuma terjadi di negri kita (soalnya saya belum tau gimana di negri sono, hehehehe..)

Yup..!! Betulz. Tradisi MUDIK.

Saban tahun menjelang lebaran, masyarakat kita pasti melakukan “ritual” tahunan ini. Kayaknya kok ndak afdhol kalo lebaran ndak mudik kekampung halaman. Bahkan orang kita yang bekerja di luar negri sono sampe bela belain menempuh perjalanan jauh nan melelahkan hanya demi untuk pulang kampoeng dan bertemu sanak keluarga dan handai tolan.

Subhanallah…

Betapa rasa kekeluargaan telah menjadi darah daging dalam diri setiap muslim Indonesia ini.

Ramadhan dan lebaran memang selalu identik dengan mudik..

Tapi bukan itu yang menjadi fokus tulisan ini.

Secara bahasa awam, mudik berarti kembali..

Mudik yang sering kita lakukan (kecuali saya, yang jaaaarang sekali mudik ke kampung halaman –karena memang saya ndak tinggal di kampung, hehehe- sampe di bilang anak durhaka, xixixixi..) adalah mudik dalam bentuk fisik. Kita kembali kekampung, daerah asal kita..

Tapi coba kita merunut kembali kebelakang. Pernah ndak kita me-mudik-kan hati kita? Mengembalikan hati kita keasalnya..

Mengembalikan diri kita ke fitrahnya..

Ya..kembali kepada fitrah. Fitrah manusia.

Yang menyukai kejujuran, menyukai keindahan, menyukai kesucian..

Mencintai kebenaran, mencintai ketulusan, mencintai kedamaian

Dan selalu cenderung kepada segala hal yang baek..

Karena pada fitrahnya semua manusia memang menyukai kebaekan…

Ramadhan, sebagai bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan, bulan yang dipilihkan Allah sebagai bulan penyucian diri kita, agar kita menjadi manusia yang bertaqwa.

Merupakan waktu yang sangat tepat untuk membersihkan hati kita dari semua noda yang pernah kita lakukan. Untuk menghilangkan bercak khilaf dan salah dari dalam jiwa kita, untuk mensucikan jiwa kita dari debu debu maksiat dan untuk mengikis sifat iri, dengki, benci, sombong dan semua sifat buruk dari dalam diri kita..

Sehingga pada akhirnya selepas Ramadhan yang agung ini kita bisa berbangga diri karena telah berhasil membersihkan diri kita dari kotoran yang selama ini menutupi hati ini, dan menyamarkan ke fitrahannya.

Mari sahabat, dalam hari yang masih tersisa ini kita coba untuk lebih mengintensifkan program pembersihan diri kita.

Mari kita reset hati kita setiap hari dengan lantunan tilawah, sholat sunnah, menyambung tali silaturrahmi, menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa, memakmurkan masjid, dan berlomba lomba dalam melakukan kebaikan dan banyak amal ibadah lain yang bisa kita lakukan. Mumpung bulan puasa. Karena kita semua tidak pernah tahu, apakah kita akan bersua lagi dengan Ramadhan tahun depan.

Mari sahabat, ambil kesempatan emas ini, raih kesempatan untuk mensucikan diri kita, untuk membersihkan jiwa kita.

Sehingga kelak kita semua bisa mudik bareng bareng. Tidak saja memudikkan fisik kita namun juga memudikkan hati dan jiwa kita.

Mengembalikan hati dan diri kita kepada fitrahnya…

Kembali suci, kembali fitri…

M,

Cipocok, sepekan sebelum ‘idul fitri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s