Karena hidup adalah

Posted: Maret 1, 2009 in telaga hati, Uncategorized
Tag:, ,

“Asem, ujianku nggak lulus nih!!”

“Waduh, panas banget ya. Gila aja tia hari semarang panasnya kayak gini. Sekali ujan malah banjir!”

Jujur.., udah berapa kali kita mengeluh hari ini? Udah berapa kali kita merasa seolah olah Tuhan “nggak adil” sama kita? Udah berapa kali kita mengeluh tentang taqdir yang kita terima? Wah ndak keitung ya.. Saya malah sama sekali nggak berani menghitungnya, saking banyaknya..

——————————————————————-

Kendal,28 januari 2006. Pengobatan massal mapadoks.

“Siang ibu,..keluhannya apa, ibu??” sapa saya saat seorang pasien datang ke meja saya.

“Ini lho dok.., tangan kanan saya sebulan ini ini kok terasa sakit ya. Sampai saya tidak bisa mengangkat barang dengan tangan saya ini… Kerjaan saya jadi terganggu dok”

Setelah memberi resep obat yang dibutuhkan sang ibu, saya sempat termenung. Alhamdulillah, saya masih dianugrahi tangan yang sehat sehingga saya bisa menulis, mengetik, makan, dan berbuat apa saja dengan tangan saya ini… Subhanallah, saya baru menyadari betapa susahnya seandainya tangan ini sakit sedikit saya seperti ibu tadi. Pasien kedua, ketiga, keempat…dst sampai pengobatan massal itu selesai…

———————————————————————

Puskesmas Pandanaran

“Mas, saya mau ngurus surat keterangan sehat”, seorang pemuda datang menghampiri meja saya.

Setelah menyerahkan formulir dan memintanya untuk mengisinya, diapun kembali ke meja saya dan menjalani pemeriksaan rutin.

Hingga tiba pemeriksaan buta warna.

“Ini angka berapa mas?” tanya saya sambil meyodorkan buku tes buta warna (kartu ishihara), yang bertuliskan angka 8.

Sejenak dia terdiam.., kemudian menjawab

“Tiga”, saya mengernyitkan kening..

“Kalau ini mas?” tanya saya lagi.

“Waduh mas, harus tes buta warna juga tho?”berkata dia dengan wajah agak sedih.

“Lha iya, namanya juga tes kesehatan…” ujar saya

Kemudian kartu kartu lain pun disodorkan kepadanya. Dan tampak sekali dia kepayahan dalam melewati tes tersebut.

Saya merenung…

Duhai, alangkah nikmatnya saya memopunyai dua mata yang berfungsi secara normal dan baik.., sedangkan dia??

—————————————————————————-

Ya Allah, betapa nikmat yang engkau berikan ini sungguh sangat besar.

Pernah ndak kita merenungkan, bahwa sesungguhnya hidup kita ini tidak lain hanya berpindah dari satu nikmat kenikmat lainnya. Coba kita hitung, mulai dari saat bangun tidur. Sudah berapa nikmat yang kita dapat.

Udara untuk bernafas. Paru paru yang sehat. Hidung yang tidak tersumbat. Mata yang bisa kembali terbuka. Penglihatan yang baik, dan masih banyak nikmat lain yang tidak bisa disebut disini.

Subhanallah…Itu baru saat bangun tidur. Coba bayangkan berapa anugrah Allah yang sudah kita nikmati dalam 24 jam ini, dalam seminggu ini, dalam sebulan, setahun, dan seumur hidup kita???

Demi Tuhan yang diriku berada dalam
genggaman-Nya, sesungguhnya seseorang
telah datang pada hari kiamat dengan
amal-amal saleh yang bila diletakkan di
atas gunung maka ia akan memberatinya.
Lalu bangkitlah salah satu nikmat dari
nikmat-nikmat Allah, maka nikmat itu
hampir saja menghabiskan semua amal
saleh orang tadi, kalau saja Allah tidak
mengaruniakan kepadanya RAHMAT-NYA.
(HR. AL-Mundziry)

Lantas masih patutkah kita mengeluh seandainya kita mendapat “sakit” yang sedikit, setelah sekian lama kita menikmati karunia yang Allah berikan kepada kita? Sementara dengan sakit itu mau tidak mau kita harus beristirahat.

Masya Allah, bukankah itu suatu nikmat juga? Tubuh kita yang setiap harinya harus bekerja akhirnya bisa beristirahat sejenak!!

Pernah ndak kita – baca: saya- berpikir seperti itu? Saya mengaku, JARANG SEKALI.

Mau ndak, kita menukar mata kita dengan nilai A sepanjang hidup kita? Mau ndak, kita menukar telinga kita dengan uang 100 juta? Mau ndak, kita menukar jantung kita dengan semua keinginan kita?

Saya yakin kita semua akan menjawab “tidak!!”

So, bukanlah musibah atau masalah yang datang kepada kita. Tapi kita sendiri yang membuat hal hal tersebut menjadi sebuah musibah.

Coba kita cari nikmat yang terkandung dari setiap kejadian yang kita hadapi. Syukuri semua nikmat yang masih dapat kita nikmati saat itu. Karena : “..barangsiapa yang bersyukur niscaya Kami tambahkan nikmat kepadanya..”

Jangan lah kita menjadi umat yang kufur nikmat. Karena hidup adalah perpindahan dari satu nikmat ke nikmat lainnya,

“maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

M,

Puskesmas Pandanaran, siang hari selepas koass sambil menghisab diri sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s