IAIN, sebuah tragedi di negri dongeng

Posted: Maret 1, 2009 in corat coret, Uncategorized
Tag:, ,

Assalaamu’alaikum wr wb

Tertegun saya membaca salah satu mailing list beberapa minggu yang lalu. Terangkat sebuah kasus yang cukup klasik tapi tetap saja menghebohkan.

Knapa saya bilang klasik? Karena memang hal itu sudah beberapa kali terjadi, dan selalu saja berulang.

Knapa saya bilang menghebohkan? Karena setiap terungkap selalu saja membuat geger, membuat orang lain geram, marah, dongkol, dan lain lain deh..

Masalah penghalalan pernikahan sesama jenis, itulah berita yang menghebohkan itu. Dan yang membuat geleng geleng kepala, gagasan itu di lontarkan -kembali- oleh para mahasiswa IAIN, yang kali ini berlokasi di Semarang.

Edan!

Itu yang pertama kali terlintas dibenak saya.

Yah gimana ndak gila. Berani beraninya dia melontarkan gagasan menikah sejenis itu, dan berencana melegalkannya dengan strategi :

1. Mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara.

2. Memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya.

3. Melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual,

4. Menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita. Bahkan gerakan ini dapat legalisasi dari Institusinya

Astaghfirullah…

Dijejali apa mereka selama kuliah di IAIN. Sebuah institusi yang seharusnya mencetak manusia unggul dengan pemahaman Islam yang baik, kok malah memproduksi manusia dengan aqidah nyeleneh seperti itu??

Mungkin ada benarnya kata ustad Adiah Husaini, jika IAIN sekarang merupakan singkatan dari Ingkar Allah Ingkar Nabi.

Bukan sekali ini saja oknum IAIN mencetuskan ide ide edan seperti itu.

Masih inget kisah “Wilayah bebas tuhan” di UIN?

Atau penginjakan lafazh Allah oleh salah seorang dosen IAIN?

Atau pelafalan “Anjing hu akbar” saat masa orientasi mereka?

Na’udzubillah…

Memang proses perusakan nilai Islam ini sudah terjadi sejak zaman dulu, mulai dengan cara sekulerisasi sampai cara liberalisasi. Tapi kalau dulu, saat zamannya Cak Nur, mereka masih terkesan malu malu, sekarang mereka sudah berani terang benderang, eh..terang terangan maksudnya, dengan Ulil Abshar dan teman teman “seaqidah” nya sebagai bemper terdepan.

Sistem yang salah merupakan biang keladi dari semua tragedi ini. Dikirimnya para mahsiswa dan dosen IAIN untuk belajar Islam kenegri barat (belajar Islam kok di negri kafir??), dan mendalami ilmu perbandingan agama dengan pendekatan yang salah, dan di bimbing oleh guru yang sesat pula, maka jadilah mereka lulusan dengan ilmu yang sesat lagi menyesatkan, na’udzubillah..

Untuk itulah, buat saudara saudaraku seakidah, mulai saat ini marilah kita membentengi diri dengan kemantapan iman dan ketakwaan. Karena musuh musuh Islam tidak akan berhenti menggerogoti agama langit ini sampai kita mengikuti jalan mereka yang terlaknat itu.

Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS At-Taubah: 32)

Semoga Allah selalu menunjukkan kepada kita setiap kebatilan yang mereka rencanakan, dan mununtun kita agar tetap berada di jalan yang lurus, jalan kebenaran para Nabi.

Wallahu ‘alam

M, warnet ramadhan menjelang buka puasa.

Komentar
  1. awaknanggroe mengatakan:

    dan ummmat islam hanya diam saja????

  2. piah mengatakan:

    anda mungkinperlul belajar lebih banyak tentang arti pluralisme dan liberalitas peamahaman agama. tidak dapat dipungkiri bahwa hal seperti itu memang ada dan sangat rasional(argumennya). anda berada di dunia yang berbeda dengan mereka atau bahkan tidak pernah mengenal sama sekali dunia seperti itu. jika kaca mata pemikiran anda lebih luas anda mungkin akan mempunyai argumen yang lebih bijak dan mendalam. selamat berikir dengan bijaksana……..

    • midoza mengatakan:

      Ya, mungkin saja saya memang harus belajar tentang teori pluralisme dan liberalisme. Tapi kalau sudah pemikiran mereka sudah menginjak ranah agama, yang namanya pluralisme dan liberalisme, apapun itu argumennya adalah sebuah kesalahan. Islam sendiri mengakui pluralitas, Rasulullah sudah mencontohkannya dengan baik pada saat penandatanganan piagam Madinah. Namun Rasul tidak mengajarkan SEMUA AGAMA ADALAH BENAR. Tidak ada satupun kutipan Rasul, baik dalam Sirah beliau atau sirah Sahabat yang menyebutkan, bahkan sekedar menyiratkan hal itu. Lakum diinukum waliyadiin.. Itu yang harus diluruskan.
      Dan yang kedua, Islam juga mengakui adanya liberalitas. Islam tidak, dan tidak akan pernah, memungkiri perubahan zaman yang menghendaki adanya kebebasan. Kita lihat dalam Surat Al Baqarah, disana difirmankan :..”laa ikraaha fiddiin..”. Tidak ada paksaan dalam agama. Itu artinya Islam menghargai adanya kebebasan. Rasul juga dalam mendakwahkan Islam tidak pernah memaksa manusia untuk memeluk Islam, semua itu semata mata hanyalah berkat hidayah Allah. Tapi liberal itu bukan berarti bebas memahami agama dan ajarannya dengan semau gue. Itulah kesalahan mendasar mereka, mengedepankan akal ketimbang penjelasan Qur’an dan Sunnah dalam memahami agama. Ingat, nalar manusia tidak akan pernah sanggup mendalami keseluruhan inti dari ajaran Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s