Pagi di 1 Syawal

Posted: Juli 29, 2014 in Uncategorized

Tahun ini alhamdulillah kami masih d pertemukan dengan ramadhan dan lebaran dalam kondisi sehat wal afiat. Dan lebaran tahun ini alhamdulillah dapat aku rayakan brsama keluarga kecilku, meski hanya sebentar. Ya, moment lebaran adalah salah satu moment paling istimewa. Setidaknya itulah yang sampai saat ini aku rasakan. Kenangan kenangan indah saat lebaran di masa kecil begitu kuat tertanam d memori ku.
Masih jelas tergambar dalam ingatanku saat2 merayakan lebaran di Medan. Saat aku masih kedip dan semua saudara masih berkumpul. Betapa kekeluargaan begitu sangat kuat aku rasakan. Tidak hanya moment berkumpulnya semua anggota keluarga. Lebih dari itu, ada perasaan yang tidak dapat diucapkan saat berada pada hari fitri itu. Dan itulah alasan kenapa, banyak orang, termasuk saya selalu berusaha untuk merayakan lebaran bersama keluarga. Saya ingin merasakan ‘sensasi’ itu lagi. Mungkin bagi beberapa orang, lebaran adalah satu hari yg biasa saja yang akan berlalu seperti hari2 lainnya. Bagi saya hari ini adalah istimewa. Dan aku ingin anak2 ku juga merasakan apa yang aku rasakan. Karena kelak mereka akan dewasa, Dan aku tidak ini esensi silaturahmi saat lebaran luntur dari diri mereka.

Happy Ied Mubarak, mohon maaf lahir Dan batin. Taqobbalallahu minna wa minkum, taqobbal ya kariim’


Enam bulan saya meninggalkan rumah di pantura.

Enam bulan saya menjadi warga baru di kota Surakarta.

Enam bulan saya resmi menjadi salah satu pencari ilmu di Solo

Enam bulan saya masuk dalam ikatan keluarga yang bernama Residen Bedah..

Yap, alhamdulillah saya akhirnya bisa menembus tebalnya tembok PPDS bagi orang “biasa” seperti saya ini. Dan Solo masih bersahabat dengan saya. Disinilah saya benar benar mengalami kalau menjadi seorang spesialis itu bukanlah hal yang mudah. Masuknya sulit, didalamnya ternyata jauh lebih sulit. Bukan mencari orang pintar, tapi mencari orang yang rajin dan tekun. Bukan mencari orang besar tapi menjadikan orang besar, itulah pendidikan di keresidenan bedah. Dan ini sudah saya alami selama setengah tahun ini.

Bismillah, ini adalah langkah awal menuju mimipi yang saya sedang menjalaninya.

Keep dreaming, but don’t forget to wake up and reach that dreams….


Sekali lagi, korps berjas putih kembali mendapat ujian. Namun bedanya ujian kali ini tampaknya cukup menjadi pemantik kesadaran bagi seluruh dokter di Indonesia. Adalah kasus tuduhan malpraktik kepada dr. Ayu dkk saat melayani kasus kegawatan janin dari Ny. Siska di Manado. Hal ini menggelitik saya utuk kembali menulis disela sela kesibukan sebagai residen di Solo ini.

Ada banyak hal yang dapat kita tarik dari gerakan tafakur ini. Kami memang menyebut gerakan ini adalah tafakur, bukan mogok, karena kami tetap melayani kasus gawat darurat dan tindakan yang sifatnya emergency. (pertanyaan pertama : adakah profesi lain yang melakukan gerakan serupa, tapi tetap memberikan pelayanan seperti dokter??)
Mungkin ini adalah langkah paling berat yang kami ambil, karena usaha persuasif untuk menunda penahanan, atau minimal tahanan kota terhadap dr. Ayu tidak digubris sama sekali oleh pihak kejaksaan (harus dicatat, tujuannya adalah untuk MENUNDA PENAHANAN sambil menunggu putusan PK, bukan menuntut pembebasan).
Dan yang harus digarisbawahi adalah, gerakan ini mungkin sekali adalah puncak dari kegelisahan teman teman sejawat yang selama ini sangat dianggap sebelah mata oleh semua pihak, bahkan oleh pemerintah. Sampai sampai Ibu Menkes yang terhormat jelas dan gamblang tidak memberikan dukungan sama sekali bagi sejawatnya sendiri. Disamping itu seringkali kami para praktisi kesehatan selalu dijadikan objek bagi orang2 yang berkepentingan, mulai dari pengobatan gratis, sistem jaminan kesehatan yang sangat tidak adil sampai pemaksaan dalam pelayanan oleh mereka yang berlabel penguasa.
Itu masih sebagian kasus yang bisa saya paparkan, belum lagi masalah besar tentang penghargaan terhadap profesi yang masih sangat kurang, perhatian terhadap dokter yang bertugas didaerah perifer yang selalu di abaikan (saya ragu diantara pembaca blog ini pernah mendengar tentang berita kematian sejawat kami saat bertugas di pedalaman, padahal itu sudah sering terjadi), sampai banyaknya stigma negatif di masyarakat terkait dengan profesi kami.
Mungkin kamilah satu satunya profesi yang jika libur akan dianggap aneh (pertanyaan kedua : adakah profesi lain yang bekerja seperti kami dan dianggap aneh jika libur di tanggal merah???), mungkin hanya kami yang selalu dituntut bekerja sempurna dan akan dianggap hal biasa, dan sebaliknya jika usaha kami gagal akan panen kecaman dan makian hingga tuntutan kriminal (pertanyaan ketiga : adakah profesi lain yang tetap rawan tuntutan meski sudah bekerja dengan standar profesi dan SOP??)
Dan akhirnya sebagai akumulasi dari itu semua, kami mengambil jalan ini. Berdiam diri di rumah selama dan hanya satu hari…satu harii saja.. Biarkan kami rehat sejenak dari beratnya beban profesi kami.
Agar semua pihak sadar, kami dokter hanyalah manusia juga yang hanya bisa berusaha, bukan menentukan hidup matinya pasien.
Agar semua pihak sadar, kami dokter tidak ada yang mau gagal dalam menangani pasien kami apalagi berniat mencelakai pasien.
Agar semua pihak sadar, kami dokter juga warga negara yang memiliki hak dan kewajiban, sama dengan yang lain.
Agar semua pihak sadar, kami dokter juga butuh materi untuk hidup kami dan keluarga kami….bukan hanya ucapan terima kasih dan piagam penghargaan dari pemerintah.

Dan…untuk semua pihak yang selalu bersebrangan dan mencari celah kesalahan kami, jika anda sakit atau anggota keluarga anda sekarat silahkan anda mencari pertolongan ke dukun, ke luar negri, atau menangani sendiri dengan panduan mbah Google….

Dan untuk masyarakat yang berada di belakang kami, terima kasih atas kepercayaan anda semua, percayalah kami akan membalas kepercayaan itu dengan pelayanan paripurna.

Salam sejawat.


Dokter, profesi yang amat mulia (ini harus diakui lho).

Kita ingat, profesi ini pula yang menjadi motor pergerakan bangsa Indonesia saat masa perjuangan yang diwakili oleh dr.Soetomo dan TS yang lain..

Profesi ini juga yang menjadi pilar dan subjek utama dalam pencapaian beberapa poin MDG’s.

Tapi ironis, saat ini eksistensi dokter, sebagai satu satunya profesi yang memiliki Undang undang dalam menjalankan prakteknya, semakin tergerus. Saya sampai lupa kapan hal ini mulai terjadi. Namun saat ini, dokter seakan akan menjadi pesakitan di negri ini.

Tanpa disadari, negara ini (yang termasuk didalmnya adalah rakyatnya) telah memberi perlakuan tidak adil bagi profesi ini. Dan lebih gilanya lagi, dokter Indonesia terkesan adem ayem saja diperlakukan seperti itu, paling tidak sampai bulan kemarin.

Coba kita bercermin sedikit. Disaat buruh setiap tahun selalu bersuara untuk kesejahteraan mereka, dokter masih saja sibuk melayani masyarakat sampai di pedalaman. Disaat para guru demo berjuang kenaikan gaji, para dokter masih saja disibukkan dengan pelayanan di tempat tugas mereka, Disaat profesi lain sudah berhasil meraih perjuangan mereka, para dokter masih saja berada dalam kondisi yang sama. Disaat upah buruh mencapai angka lebih dari 2 juta perbulan, pendapatan dokter PTT di pedalaman masih 1,5 juta.

Coba kita bercermin lagi. Disaat para koruptor dengan gampang menghadapi pengadilan didampingi tim pengacara hebat (yang bisa dipastikan akan membela habis habisan koruptor itu), para dokter harus berjuang menghadapi tuntutan dari preman yang bertopeng LSM yang mengatasnamakan rakyat.

yak, itu sekelumit kisah getir para dokter di negri ini.

Namun sekali lagi lagi, diantara semua keterbatasan dan perlakuan yang serasa tidak adil itu, kami bangga dengan sejawat kami yang bertaruh nyawa menolong persalinan ibu hamil di pedalaman Jayawijaya, dan lembah Keerom. Kami bangga dengan sejawat kami yang berjuang memberantas malaria di timur Indonesia, meski nyawa mereka harus berhadapan langsung dengan malaria ganas. Dan disitulah kebanggan kami menyandang profesi dokter.

Kami dididik sangat lama hingga 6 tahun menjadi dokter umum dan harus ditambah 5-7 tahun lagi untuk spesialis, karena kami sadar yang kami tolong nanti adalah MANUSIA yang memiliki hak untuk hidup. Dan itu adalah sumpah kami, yang kami bawa sampai mati. Jadi kalaupun ada yang melakukan sedikit kekhilafan atau kelalaian, saya amat sangat yakin, itu bukanlah sesuatu yang disengaja. Namun apakah seperti itu ?

TIDAK kawan!!!

Jika seorang dokter sedikit saja membuat kesalahan maka hampir bisa dipastikan serangan tuntutan dan umpatan beserta cacian datang dari segala arah dengan berdalih pelayanan yang tidak profesional dan selalu berujung pada satu kata, MALPRAKTEK. Seolah olah negara ini lupa kalau dokter itu juga seorang manusia yang pada suatu saat pasti bisa khilaf dan alpa.

Ah sudahlah…

Saya tidak ingin berlama lama menulis disini, ntar dikira lebay.

Cuma ada beberapa poin yang mau saya sampaikan dan saya harap jadi perhatian semua pihak.

PEMERINTAH : tolong perhatikan dan dengarkan suara kami. Anda harus inget punya warga negara yang berprofesi sebagai dokter. Dan untuk menuju profesi itu sangatlah tidak mudah. Jadi tolong benahi sistem pendidikan Kedokteran di Indonesia, berikan insentif yang layak bagi sejawat yang tulus mengabdi di wilayah pelosok indonesia. Jangan hanya bisa membuat program besar namun tidak dipersiapkan secara matang, akibatnya apa? Yang menjadi kambing hitam bukan anda, tapi kami yang bertugas di lapangan!! Memberikan program pelayanan kesehatan gratis, namun imbal jasa yang diberikan amat sangat tidak layak. Sekali lagi, berlakulah sebagai pemerintah yang bertanggungjawab.

WAKIL RAKYAT YANG TERHORMAT : dimana kalian jika kami yang menuntut hak? Jangan dikira kami para dokter tidak memiliki hak yang harus kalian perjuangkan. Jadi saya harap, buka mata dan telinga anda. Dengarkan aspirasi kami.

MEDIA/PERS : sampai sekarang saya sangat jarang ada headline yang memuat tentang perjuangan berat seorang dokter di daerah amat terpencil. Bahkan ketika ada sejawat kami yang meninggal akibat ambulance yang di tumpangi setelah merujuk pasien jatuh kejurang di papua hanya berada di sudut kecil harian nasional, mungkin tidak ada yang membacanya. Atau ketika ada rombongan dokter PTT yang bertugas di timur Indonesia yang tewas dalam tugas karena kapal yang mengantar mereka tenggelam, itu juga tidak terlihat di harian lokal dan nasional. Beritakan secara seimbang, sama saat kalian memberitakan dugaan kasus malpraktek yang dilakukan salah satu dari kami.

SEJAWAT : tetap semangat kawan. Karena bagaimanapun kita tetap dibutuhkan masyarakat. Adalah memang tugas kita untuk memberikan pelayanan kesehatan dan menjadi perantara Allah untuk menyembuhkan orang lain.

Selamat hari bakti dokter Indonesia.

Sejehtera dokter Indonesia, sejahtera Indonesia.


Assalaamu’alaikum wr wb

Sekedar sharing aj, kebetulan bulan bulan ini saya ada keinginan untuk melanjutkan sekolah saya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Nah…kebetulan salah satu ujian yang harus saya lewati adalah tes potensi akademik (TPA). Awalnya saya sempat bingung mau latihan soal TPA dari mana? Mau beli di toko rata rata soal TPA edisi yang cukup lama. Akhirnya saya coba tanya mbah google dan ktemu dengan salah satu website yang menurut saya cukup baik dalam menyediakan soal TPA untuk latihan saya. Sejawat bisa membuka web http://www.tespotensiakademik.com/?id=midoza untuk mengetahui lebih jelas isinya. Tapi memang ada biaya untuk mendownloadnya namun saya rasa cukup ringan untuk isi yang bagus.

Selamat latihan…


Akhirnya saya kembali ke lembaga PUSKI lagi!!

Yup selama tiga hari saya mengikuti kursus lanjutan USG yang kali ini mengkhususkan di bidang muskuloskleteal. Sebanyak 28 orang berpartisipasi dalam kursus MSK ini, dan sebagian besarnya adalah dokter spesialis. Jumlah terbanyak adalah dokter Sp.KFR diikuti dokter radiologi,  internist, bedah, ortopaedi, dan dokter umum.

Selama tiga hari kami di PUSKI semakin terbuka cakrawala kami bahwa USG saat ini semakin berperan besar dalam menunjang dan mempertajam diagnosis. Selain keunggulannya yang lebih ekonomis, non intervensi, dan tanpa persiapan yang rumit, USG juga memiliki angka ketepatan diagnosis yang cukup tinggi, namun memang ini tergantung dari operatornya.

However, dari kursus USG MSK ini, akhirnya saya mendapat ilmu dan pengalaman baru, bahwa sebenarnya banyak sekali kasus muskuloskeletal yang luput dari diagnosis yang sebenarnya, karena hanya berkutat di gejala klinis dan masuk ke ranah gangguan metabolik atau degenaratif. Namun ternyata setelah dilakukan USG terbukti jika masalahnya adalah di sistem muskuloskeletal.

Yak, sekali lagi saya mendapat ilmu dan wawasan baru, dan saya yakin ke depannya USG akan semakin mendapat tempat dalam penegakan diagnosa sejajar dengan penunjang lain uang lebih dulu established.

Salam.


Badann Penyelenggara Jaminan Sosial sejatinya bertujuan baik, yaitu untk memeberikan dan memfasilitasi agar seluruh rakyat Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan. Niat yang sangat baik sekali.

Namun menjadi timbul masalah saat gagasan pemerintah ini ternyata mendapat penolakan. Bahkan penolakan itu berasal dari masyarakat yang notabene menjadi tujuan program tersebut, dan kalangan petugas kesehatan yang menjadi penyedia layanan kesehatan.

Kalau dua pihak ini (yang menjadi sasaran dan yang memberikan pelayanan) saja menolak, lantas mau dibawa kemana program ini. Adalah SJSN yang menjadi topik utama pembahasan ini. Dan penolakan itu bukan tanpa dasar dan sebab.

Jika kalangan masyarakat luas menolak program ini karena menolak pembayaran premi dan menuntut pemerintah menanggung semua beban premi itu, karena merasa bahwa menyediakan pelayanan kesehatan yang terjangkau itu adalah kewajiban pemerintah.

Sedang dari pihak penyedia layanan kesehatan menilai angka nominal klaim yang ditetapkan pemerintah terlalu rendah. Hal ini yang menimbulkan resistensi di kalangan petugas kesehatan dalam hal ini dokter, karena merasa profesinya tidak dihargai dengan semestinya.

Memang jika kita menilik ke masing masing alasan, semua itu sangat masuk akal. Sekarang kembali kepada pemerintah, apakah mau mendengar aspirasi rakyat? Atau tetap memaksakan program yang jelas jelas ditolak oleh dua pihak yang berperan sebagai aktor utamanya?

Kita tunggu saja..


Puncak Semeru tampak kokoh menjulang ketika aku terjaga pagi itu dalam perjalanan panjang Tegal-Malang. Yup, aku bersama seorang teman dari RS akan mengikuti pelatihan ATLS di RS Saiful Anwar Malang selama 3 hari 9-11 November 2012. Sedikit oleh-oleh kisah dibawah ini aku ceritakan bagi pembaca blog ini semoga bermanfaat dalam mempersiapkan diri menghadapi kursus ATLS.

Hari pertama diawali dengan registrasi ulang peserta. Tercatat 32 orang mengikuti kursus kali ini yang dengar-dengar dari instruktur merupakan kelas ke 879 (tapi ndak tau apakah instruktur sedang bercanda atau serius..). Pretest merupakan soal multple choice yang terdiri dari 40 soal berbahasa inggris dan harus dikerjakan terlebih dahulu dirumah. Yup, soal pretest dikirim kerumah peserta berikut dengan paket buku ajar ATLS. Variasi soal sangat beragam, semua terkait dengan kasus trauma dan materi ATLS. Oya, sebelumnya buku ajar ATLS sudah dikirim, biasanya 3 bulan sebelum kursus, jadi kita ada kesempatan untuk belajar dulu di rumah.
Lepas registrasi kami menudian mengikuti kuliah yang didahului demo tentang Initial Asessment. Kuliah diberikan secara interaktif dan cukup menarik.
Dan hari itu kami dibagi menjadi 8 kelompok kecil yang masing masing beranggotakan 4 orang.
Empat kelompok termasuk kelompok saya mandapat kesempatan memasuki surgery skill lab di hari pertama. Di surgery skill lab ini kami melakukan semua tindakan Life Support pada kambing. Namun tenang saja, semua kambing yang dijadikan hewan coba tidak merasa disakiti karena semuanya dibius dengan GA. Kami mencoba melakukan vena seksi, chest tube, needle decompression sampai DPL pada hewan coba. Dan hari pertama kami diakhiri dengan pembahasan soal pretest dan ditutup dengan Course Dinner yang wajib diikuti oleh seluruh peserta ATLS.

Hari kedua dimulai dengan kuliah lagi, menghabiskan semua materi pada buku ajar ATLS. Pada hari kedua ini kami memasuki kelas skill lab. Di station ini kami melakukan dan berlatih penanganan ABCD dengan manekin dan alat peraga, termasuk pembacaan foto rontgen pada kasus trauma. Dan hari kedua ini berlalu dengan tidak terasa karena semuanya asik dengan latihan di skill lab ini.

Hari ketiga, inilah hari penentuan lolos tidaknya kami di kursus ini. Dimulai dengan post test dan dilanjut dengan ujian praktek Initial Asessment langsung pada probandus. Siap tidak siap semua peserta harus siap menghadapi ujian ini. Berfikiran jernih, terstruktur dan tidak panik adalah kunci melewati ujian Initial Asessment ini, dan harus diingat tidak ada gunanya menanyakan soal pada teman yang sudah lewat ujian ini karena variasi soal sangat beragam dan tergantung dari pengujinya. Namun intinya adalah sama yaitu Primary survey yang baik sampai stabilisasi pasien.

Dan ada beberapa hal yang harus diperhatikan TS semua :
1. Adalah benar kalau pada kursus ATLS ada peserta yang tidak lulus dan harus mengulang. Di kelas kami dari 32 orang yang ikut hanya 26 orang yang lulus. Dan yang harus mengulang kursus diberikan waktu sampai 3 bulan untuk mengulang ditempat manapun tanpa tambahan biaya (kecuali tranport ya), namun jika lebih dari 3 bulan maka dia harus membayar penuh seperti kursus baru.
2. Nilai batas untuk mengulang adalah minimal 35 pada nilai post test. Namun nilai 35 ini bukan ambang batas kelulusan kursus. Nilai 35 ini adalah batas minimal nilai peserta untuk mengikuti ujian praktek Initial Asessment, jika pada post test nilainya dibawah 35, maka dia secara otomatis tidak akan bisa melanjutkan ke ujian praktek initial asessment, langsung tidak lulus dan dipulangkan.

Secara keseluruhan kursus ini sangat menarik dan pressure yang diberikan cukup membuat kita selalu waspada..hehe..
Oke bagi TS yang ingin mengikuti ATLS saya sarankan untuk mempersiapkan diri dengan baik dan selalu percaya diri.

Selamat belajar.


Assalaamu’alaykum wr wb

Alasan saya menulis postingan ini berawal dari adanya tulisan dari Prof Sofjan Siregar di situs yahoo. Disana sang profesor menyatakan kalau perbedaan dalam menentukan awal puasa adalah suatu laknat, bukannya suatu rahmat.

Dan beliau sempat mengeluarkan komentar yang saya pikir tidak layak diucapkan oleh seorang guru besar ilmu Islam (meski saya juga kurang tau spesialisasi beliau di bidang apa, karena di situs itu profesor mengomentari semua hal), karena terkesan mendiskreditkan sebagian pihak. Disini malah membuat masyarakat bukannya tercerahkan, maah jadi bertambah bingung, dan yang lebih fatal bisa menumbuhkan sikap “yang paling benar” diantara ummat.

Memang di Indonesia, kita sering mendengar dan mengalami adanya perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri. Namun perbedaan itu sebaiknya kita sikapi secara arif dan bijaksana. Ada sebagian ummat yang menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri dengan metode Rukyatul Hilal, namun ada juga yang menggunakan metode Hisab (wujudul hilal).

Menurut perhitungan Hisab, bulan baru bisa ditentukan jauh jauh hari dengan menghitung kapan terjadinya konjungsi/ijtimak (bulan dan matahari berada sejajar), dan saatnya hilal itu muncul. Hal ini terlepas dari berapapun ketinggian hilal, jika hilal sudah muncul maka ditetapkan sudah memasuki bulan baru, dengan syarat (1) Konjungsi (ijtimak) telah terjadi sebelum Matahari tenggelam, (2) Bulan tenggelam setelah Matahari, maka keesokan harinya dinyatakan sebagai awal bulan Hijriyah.

Sedangkan dari sisi Rukyatul Hilal, berpedoman bahwa bulan baru sudah datang jika hilal dapat dilihat lewat penglihatan langsung. oleh karena itu ketinggian hilal sangat berpengaruh pada metode ini. Jika ketinggian hilal sudah memungkinkan untuk dilihat maka ditetapkan sudah memasuki bilan baru. Metode ini memiliki persyaratan (1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang daripada 2° dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3°. Atau (2)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak/konjungsi berlaku. Persyaratan ini merupakan kesepakatan pada Taqwim Standard Empat Negara Asean, yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) dan merumuskan kriteria yang disebut “imkanur rukyah”

Nah berdasar pedoman inilah masing masing metode memiliki kesimpulan yang sering berbeda, namun sebaiknya kita jangan membesarkan perbedaan itu,apalagi sampai menyalahkan/menjatuhkan pihak lain, karena manapun yang kita ikuti insya Allah shaum kita akan diterima, insya Allah.

Selanjutnya terserah anda,mau berpuasa sesuai hisab atau sesuai rukyah? Insya Allah kita akan memasuki Ramadhan yang sama, yang sama sama merupakan bulan penuh maghfiroh dan ladang amal kita.

Marhaban yaa Ramadhan…


Tahun ini kami dari RS Mitra Siaga mendapat kesempatan besar untuk mengadakan sebuah agenda besar, yaitu pelaksanaan operasi bibir sumbing. Kebetulan kami mendapat tawaran kerjasama dari RS Al Irsyad Sirabaya untuk mengadakan operasi bibir sumbing gratis di area tegal. Tawaran langsung kami foolow up dan kami sempat berkunjung ke RS Al Irsyad, hingga penentuan tanggal yang unsya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 26-29 April 2012.

ImageBagi siapa saja yang ingin berpartisipasi, memerikan informasi ttg pasien atau malah ingin mendaftar silahkan menghubungi saya via email midoza21@yahoo.com atau telf ke RS Mitra Siaga 0283 322550.

Sekalian kami mohon dukungan doanya semoga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik…amienn…