Kenangan malam tumbilotohe…

Posted: September 18, 2011 in corat coret, Info Sejawat

Salah satu kenangan yang begitu membekas diingatan saya saat bertugas sebagai dokter PTT di Gorontalo adalah saat menjalani puasa disana. Benar benar nuansa Ramadhan yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan daerah lain yang pernah saya tinggali.

Sebagai catatan sejak zaman ko ass alhamdulillah saya tidak pernah menjalani puasa dan lebaran di tempat yang sama sebanyak dua kali. Dimulai saat koass tahun pertama yang puasa dan lebaran di kudus, disinilah saya tau istilah “dandangan”. Sebuah aktivitas khas daerah Kudus setiap menjelang Ramadhan yang hampir identik dengan “dugderan” di Semarang. Masuk tahun kedua koass, saya kembali menghabiskan puasa di Semarang lagi. Ditahun pertama jadi dokter puasa saya habiskan di Serang dan lebaran di Medan. Dan di tahun berikutnya yaitu 2009 saya berkesempatan mencicipi puasa dan lebaran di Gorontalo.

Banyak hal yang sama sekali baru yang saya dapatkan selama menjalani puasa di Gorontalo. Ibadah puasanya sih sama saja seperti daerah lain, namun budaya lokalnya yang amat sangat saya sukai. Dan salah satunya adalah malam tumbilotihe.

Secara harfiah, menurut ti opa guru, si empunya rumah dimana saya tinggal selama PTT, tumbilotohe adalah malam pasang lampu. Dimana malam tumbilotohe dilakukan 3 hari sebelum akhir Ramadhan. Sebenarnya “lampu” yang dimaksud disisi bukanlah lampu yang bohlam, namun lampu minyak yang ditempatkan didalam botol.

Pada malam itu seluruh sudut Gorontalo dipenuhi dengan lampu, mulai dari pinggir jalan, rumah penduduk, sawah, lapangan, sungai sampai rumah gubernur dan walikota ikut diramaikan oleh lampu minyak. Sangat indah.

Dan di daerah yang agak jauh dari kota, kemeriahan malam tumbilotohe semakin terasa sekali. Kita dapat bayangkan didaerah dengan penerangan yang minimal, lampu minyak bertebaran dimana mana. Tidak bisa dibayangkan betapa indahnya malam tumbilotohe. Dan keindahan itu sangat membekas sampai saya merasakan Ramadhan berikutnya di Tegal, tempat tinggal saya sekarang.

Ingin rasanya kembali ke Gorontalo hanya untuk merasakan kemeriahan malam tumbilotohe kapan-kapan. Dan buat para TS yang berkesempatan dinas ke Gorontalo saya sarankan janganlah pulang saat lebaran. Rasakan akhir Ramadhan di Gorontalo dan rasakan kekeluargaan yang sangat erat disana, saya jamin itu kan jadi momen tak terlupakan dari bumi Serambi Madinah.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s